<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Haminati Sharikha</title>
	<atom:link href="http://sharikha.web.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sharikha.web.id</link>
	<description>Sharikha Dalam Cerita...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 04:36:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>HELP ME, PLEASE!!!</title>
		<link>http://sharikha.web.id/amy-lagi-geje/help-me-please/</link>
		<comments>http://sharikha.web.id/amy-lagi-geje/help-me-please/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 04:36:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AMY</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amy lagi geje]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sharikha.web.id/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali aku dapet teguran dari teman-teman atau ortu, atau orang-orang dekatku, kenapa aku ga berubah??
Apalagi dengan penyakit LUPA karena sangat terbatasnya kemampuan memoriku menyerap informasi. Hiks&#8230;
Sampai detik ini aku masih sering banget lupa. 
Lupa dimana naruh kunci motor, entah dirumah, dikampus, dimall juga, otomatis aku juga punya kebiasaan mencari di mana dia berada. Sempet aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seringkali aku dapet teguran dari teman-teman atau ortu, atau orang-orang dekatku, kenapa aku ga berubah??</p>
<p>Apalagi dengan penyakit LUPA karena sangat terbatasnya kemampuan memoriku menyerap informasi. Hiks&#8230;</p>
<p>Sampai detik ini aku masih sering banget lupa. </p>
<p>Lupa dimana naruh kunci motor, entah dirumah, dikampus, dimall juga, otomatis aku juga punya kebiasaan mencari di mana dia berada. Sempet aku mikir usulan temenku tu kunci motor dikasih gantungan hape aja, biar bisa dimisscall  :s</p>
<p>Lupa ga makan seharian saking (sok) sibuknya. Meski daya tahan tubuhku alhamdulillah baik, tapi kadang kasian juga sama tubuhku.</p>
<p>Lupa jadwal kuliah jam berapa di ruang apa, terutama pas kuliah siang. Terpaksa telpon-telpon ato minimal sms temen dah, boros :s (untung yang ini sahabat-sahabatku pengertian, makasih ya Farida, Bibul, Farah, Rya n Mbutha yang sering ngingetin dan aku ganggu )</p>
<p>Lupa ada janji/agenda, ini yang paling memalukan, apalagi kalau penting. Hiks&#8230; maafkan saya teman-teman. Yang terakhir, lupa ga nempel pamflet KAMMI. Maap ya&#8230; (pengakuan dosa mode on)</p>
<p>Lupa nama orang, padahal baru beberapa detik setelah kenalan. :s</p>
<p>Lupa hafalan Al Qur’an yang ga seberapa, kebanyakan maksiat kali ya? :’(</p>
<p>Alhamdulillah ga lupa nama, alamat rumah, materi ujian (dalam waktu maksimal 2&#215;24jam), dll.</p>
<p>Tapi ya sebenernya aku udah usaha gimana caranya biar ga lupa, nulis semua agenda harian di schedule board, hape, juga catetan kecil, kadang saking takut lupa aku tulis di tangan juga. T.T</p>
<p>Tapi ternyata itu ga ngaruh juga. aku malah lupa ga nengok schedule board, lupa ga liat hape, lupa ga liat catetan kecil, lupa dimana naruh catetan itu. Huuuuaaaa&#8230;. </p>
<p>Complicated!</p>
<p>Ada yang bisa bantu saya???</p>
<p>Kira-kira apa ya yang bisa menghilangkan penyakit LUPA saya?</p>
<p>#nangis tersedu-sedu. hikss.. srooootttt&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sharikha.web.id/amy-lagi-geje/help-me-please/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Andai Aku Boleh Putus Asa</title>
		<link>http://sharikha.web.id/diary/andai-aku-boleh-putus-asa-2/</link>
		<comments>http://sharikha.web.id/diary/andai-aku-boleh-putus-asa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 18:04:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AMY</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sharikha.web.id/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Andai aku boleh putus asa
aku ingin selamanya diam
bisu, tuli, beku
Andai aku boleh putus asa
tak ingin aku melihat indahnya lembayung jingga
tak ingin aku menggantungkan cita jauh tinggi di atas sana
Aku hanya akan diam
Lelah aku menapaki bumi
Lelah aku menanam mimpi yg tak jua kutuai
Lelah aku memilih dawai
Lelah aku memiliki hati
Andai aku boleh putus asa
aku ingin diam
hanya diam
Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Andai aku boleh putus asa<br />
aku ingin selamanya diam<br />
bisu, tuli, beku</p>
<p>Andai aku boleh putus asa<br />
tak ingin aku melihat indahnya lembayung jingga<br />
tak ingin aku menggantungkan cita jauh tinggi di atas sana<br />
Aku hanya akan diam</p>
<p>Lelah aku menapaki bumi<br />
Lelah aku menanam mimpi yg tak jua kutuai<br />
Lelah aku memilih dawai<br />
Lelah aku memiliki hati</p>
<p>Andai aku boleh putus asa<br />
aku ingin diam<br />
hanya diam</p>
<p>Tapi Tuhanku nan Agung itu<br />
tak menghalalkan putus asa</p>
<p>Andai aku boleh putus asa<br />
aku tak ingin mengenal siapapun<br />
aku hanyalah aku<br />
hanya ada aku dan kehidupanku yg diam..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sharikha.web.id/diary/andai-aku-boleh-putus-asa-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://sharikha.web.id/uncategorized/261/</link>
		<comments>http://sharikha.web.id/uncategorized/261/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 17:50:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AMY</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sharikha.web.id/uncategorized/261/</guid>
		<description><![CDATA[Andai aku boleh putus asa
aku ingin selamanya diam
bisu, tuli, beku
Andai aku boleh putus asa
tak ingin aku melihat indahnya lembayung jingga
tak ingin aku menggantungkan cita jauh tinggi di atas sana
Aku hanya akan diam
Lelah aku menapaki bumi
Lelah aku menanam mimpi yg tak jua kutuai
Lelah aku memilih dawai
Lelah aku memiliki hati
Andai aku boleh putus asa
aku ingin diam
hanya diam
Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Andai aku boleh putus asa<br />
aku ingin selamanya diam<br />
bisu, tuli, beku</p>
<p>Andai aku boleh putus asa<br />
tak ingin aku melihat indahnya lembayung jingga<br />
tak ingin aku menggantungkan cita jauh tinggi di atas sana<br />
Aku hanya akan diam</p>
<p>Lelah aku menapaki bumi<br />
Lelah aku menanam mimpi yg tak jua kutuai<br />
Lelah aku memilih dawai<br />
Lelah aku memiliki hati</p>
<p>Andai aku boleh putus asa<br />
aku ingin diam<br />
hanya diam</p>
<p>Tapi Tuhanku nan Agung itu<br />
tak menghalalkan putus asa</p>
<p>Andai aku boleh putus asa<br />
aku tak ingin mengenal siapapun<br />
aku hanyalah aku<br />
hanya ada aku dan kehidupanku yg diam..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sharikha.web.id/uncategorized/261/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Coretan Seorang Anak</title>
		<link>http://sharikha.web.id/diary/coretan-seorang-anak/</link>
		<comments>http://sharikha.web.id/diary/coretan-seorang-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 15:38:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>AMY</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sharikha.web.id/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[aku mencintai Bapak, sama besarnya dengan cintaku pada Ibu. Meski memang cara mengungkapkan cinta kepada keduanya kini terkesan berbeda.
Malam ini, aku membuka album-album foto besar yang sudah usang, berisi foto-fotoku sejak baru lahir, balita, hingga usia SD. Semua itu hasil karya Bapak, yang kucinta.
Semua foto itu seolah berbicara cinta, betapa besar cinta bapak, betapa bangganya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>aku mencintai Bapak, sama besarnya dengan cintaku pada Ibu. Meski memang cara mengungkapkan cinta kepada keduanya kini terkesan berbeda.</p>
<p>Malam ini, aku membuka album-album foto besar yang sudah usang, berisi foto-fotoku sejak baru lahir, balita, hingga usia SD. Semua itu hasil karya Bapak, yang kucinta.</p>
<p>Semua foto itu seolah berbicara cinta, betapa besar cinta bapak, betapa bangganya beliau atas kehadiranku di dunia ini. pancaran mata dan mimik wajah di setiap poseku, berbicara bahwa aku sangat bahagia memiliki Bapak. </p>
<p>Setiap pagi aku dibangunkan, diajarkan berucap hamdalah dan doa bangun tidur, dicium, trus dipijiti, habis itu kita bertiga digendong sekali jalan ke belakang (ga kebayang kan gendong 3 balita sekaligus? Bapakku bisa lho..), dimandiin, deelel dengan sabarnya. Meski kadang kami bertiga nangis bareng jejeritan, tapi Bapak masih sangat sabar menjalankan ‘ritual’ ini hingga kami semua beranjak dewasa.</p>
<p>Sebelum berangkat bekerja dan meninggalkan aku di tangan bude, beliau sempatkan membuat sekedar mainan kecil dari bahan2 sederhana, atau memberi mainan yang bisa menemaniku seharian.</p>
<p>Setiap sore aku wajib ke TPQ, meski aku bandel dan seringkali harus dipaksa untuk itu, tapi kusadari sekarang, itu bukti cintanya. Yang kurasakan manfaatnya saat ini.<br />
Sebelum aku punya adik, Bapak selalu membawaku kemanapun beliau pergi. Kemanapun aku pergi, juga Bapak yang nganter.</p>
<p>Setiap malam Bapak juga selalu menyempatkan waktu untuk menemaniku belajar, selain Ibu. The  Great Father.</p>
<p>Yang ngajarin aku naik sepeda, disemangati belajar pakai sepatu roda meski beliau sendiri tidak bisa. Dicemplungin ke kolam renang, meski sekarang masih belum bisa nyelam seperti beliau, ah banyak sekali.</p>
<p>Setiap menjelang tidur beliau mendongeng, cerita tentang nabi, surga, neraka, kehidupan, juga cerita-cerita pop seperti Cinderela, Abu  Nawas, Snow white, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Beliau yang selalu menyuntikkan semangat, membuatku percaya diri, dan begitu percayanya beliau bahwa aku adalah anak hebat. </p>
<p>Satu celoteh beliau yang selalu kuingat,<br />
“Anak-anak Bapak harus lebih segalanya daripada Bapak. Kapasitas otak kalian jelas lebih besar daripada otak Bapak. Bapak sering merasa bersalah, karena belum dapat mencukupi segala kebutuhan kalian, tapi percayalah, Bapak akan sekuat tenaga dan sebijak mungkin berusaha.”</p>
<p>Aku memang tidak begitu ekspresif mengungkapkan cintaku kepadanya.Beda hal dengan kepada Ibu, yang setiap kali bertemu, sepanjang waktu, kuciumi beliau. aku jarang melakukannya kepada bapak, meski masih terhitung sering dibandingkan teman-temanku yang mungkin hanya setahun sekali saat lebaran dicium Bapaknya. Aku merasa sangat beruntung.</p>
<p>Meski sampai detik ini aku masih sering melakukan kesalahan dan mungkin tidak sehebat seperti yang diharapkan beliau, tapi tak pernah terucap kalimat kecewa dari mulutnya. </p>
<p>Ah, masih terlalu banyak yg dilakukan Bapak untukku. Ini bukan dongeng, bukan script sinetron, ini true story.</p>
<p>Terimakasih Bapak..</p>
<p>Pojokkamar, 26 Agustus 2010, 22.17WIB</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sharikha.web.id/diary/coretan-seorang-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
